OJK dan Tantangan Menjaga Inovasi Keuangan Tetap Aman Lewat Regulatory Sandbox

Regulasi memiliki dua kemungkinan wajah. ia dapat menjadi penyaring yang membuat sebuah ide semakin teruji, tetapi juga dapat berubah menjadi hambatan apabila desain prosesnya tidak tepat.

ESAI REFLEKTIF

Mohd. Rizky, S.Kom., M.M.

9/7/20265 min read

photo of white staircase
photo of white staircase

Setiap kali mendengar kata “birokrasi”, yang terbayang biasanya rapat berbelit, formulir bertumpuk, dan aturan yang membuat ide bagus membutuhkan waktu lama untuk dicoba. Tidak mengherankan jika kemudian muncul anggapan bahwa birokrasi adalah musuh inovasi.

Namun, benarkah demikian?

Jika seluruh aturan dan proses persetujuan dihapus, apakah inovasi otomatis menjadi lebih baik? Jawabannya tidak selalu.

Proses yang terlihat rumit terkadang justru berfungsi sebagai penyaring untuk memastikan sebuah ide telah cukup matang sebelum diterapkan dan berpotensi berdampak kepada banyak orang.

Karena itu, birokrasi memiliki dua kemungkinan wajah. Ia dapat menjadi penyaring yang membuat sebuah ide semakin teruji, tetapi juga dapat berubah menjadi hambatan apabila desain prosesnya tidak tepat.

Tantangannya bukan sekadar memilih antara ada atau tidak ada aturan. Yang lebih penting adalah merancang aturan yang benar-benar mampu menyaring kualitas tanpa menghambat inovasi.

Ketika Kritik Terstruktur Justru Membuat Karya Lebih Baik

Salah satu contoh menarik dapat dilihat dari studio animasi Pixar. Perusahaan tersebut memiliki forum bernama Braintrust, tempat sejumlah sutradara senior menonton film yang masih dalam tahap pengembangan dan memberikan kritik secara terbuka.

Menariknya, anggota Braintrust tidak memiliki kewenangan untuk memaksa perubahan. Mereka hanya memberikan masukan, sedangkan keputusan akhir tetap berada di tangan sutradara.

Kondisi tersebut justru dapat membuat proses kritik berjalan lebih terbuka. Para sutradara memiliki ruang untuk mengakui bahwa sebuah karya masih memiliki kekurangan tanpa merasa posisinya sedang terancam.

Prinsip serupa juga ditemukan dalam dunia jurnal ilmiah. Sebelum sebuah penelitian diterbitkan, tulisan tersebut harus melalui proses pemeriksaan oleh sesama peneliti.

Prosesnya dapat memakan waktu dan terkadang terasa merepotkan. Namun, mekanisme tersebut bertujuan memastikan tulisan yang diterbitkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan draf awal.

Contoh lain memiliki taruhan yang jauh lebih besar, yakni proses persetujuan obat baru.

Dari ribuan zat yang diteliti di laboratorium, hanya sebagian kecil yang mencapai tahap pengujian pada manusia dan biasanya hanya satu yang akhirnya menjadi obat yang dapat dipasarkan.

Proses panjang dan berlapis tersebut bukan sekadar formalitas. Penyempurnaan proses persetujuan bahkan dapat membantu mempercepat obat baru sampai kepada pasien tanpa mengorbankan aspek keamanan.

Ketiga contoh tersebut memiliki kesamaan. Kritik diberikan oleh orang yang memahami bidangnya, hasil kritik berupa masukan dan bukan semata-mata vonis akhir, serta terdapat standar penilaian yang diketahui oleh pihak-pihak yang terlibat.

Birokrasi dengan karakter seperti ini dapat dianalogikan seperti saringan kopi: menahan ampas, tetapi tetap membiarkan bagian yang berkualitas masuk ke dalam cangkir.

Tantangan yang Lazim Dihadapi Regulator

Di sisi lain, terdapat risiko struktural yang perlu diwaspadai oleh setiap lembaga pengawas ketika merancang mekanisme kurasi.

Antropolog David Graeber pernah mengingatkan bahwa proses administratif yang berlebihan, seperti formulir, rapat evaluasi berulang, hingga presentasi dengan format tertentu, dapat perlahan bergeser dari alat untuk menyaring kualitas menjadi ritual yang menghabiskan energi tanpa memberikan nilai substantif.

Hal tersebut bukan tuduhan terhadap institusi tertentu. Sebaliknya, ini merupakan pengingat bahwa proses yang awalnya dirancang dengan tujuan baik tetap perlu dievaluasi agar tidak berubah menjadi formalitas kosong.

Pemikiran Thomas Kuhn juga relevan dalam konteks ini. Dalam banyak bidang, gagasan yang aman dan sesuai dengan cara berpikir yang sudah mapan cenderung lebih mudah diterima.

Sementara itu, ide yang benar-benar baru biasanya membutuhkan usaha lebih besar untuk meyakinkan pihak lain.

Kehati-hatian dalam menjaga standar tentu penting. Namun, lembaga juga perlu secara sadar membuka ruang bagi gagasan yang tidak biasa, bukan hanya inovasi yang sifatnya bertahap atau inkremental.

Regulatory Sandbox OJK sebagai Ruang Uji Inovasi

Pengamatan tersebut relevan untuk melihat kebijakan yang sedang berjalan di sektor keuangan, yakni regulatory sandbox Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Secara sederhana, regulatory sandbox merupakan ruang uji coba resmi bagi inovasi keuangan digital sebelum produk atau layanan tersebut dapat beroperasi secara lebih luas.

Pendekatan ini menawarkan jalan tengah antara dua ekstrem: serba melarang atau serba membebaskan.

Berdasarkan POJK Nomor 3 Tahun 2024, kerangka tersebut telah menyediakan jalur bagi pelaku usaha untuk menguji inovasinya secara terkendali.

Namun, seperti kebijakan serupa di berbagai negara, masih terdapat ruang yang dapat terus diperkuat agar sandbox semakin optimal menjalankan fungsi sebagai filter kualitas.

Akses yang Merata bagi Inovator

Persyaratan administratif dan kesiapan sumber daya, apabila tidak dirancang secara cermat, dapat lebih mudah dipenuhi oleh pelaku usaha besar yang sudah memiliki pengalaman berinteraksi dengan regulator.

Literatur ekonomi regulasi, termasuk teori regulatory capture dari George Stigler, mengingatkan bahwa pihak yang paling sering berinteraksi dalam proses pembuatan aturan dapat memiliki keuntungan lebih besar. Dinamika tersebut bersifat universal dan perlu diantisipasi melalui desain regulasi yang inklusif.

Salah satu caranya adalah menyediakan pendampingan atau jalur yang lebih sesuai bagi inovator berskala kecil.

Mengutamakan Substansi

Proses sandbox juga perlu terus dijaga agar berorientasi pada substansi, bukan sekadar kelengkapan administratif.

Studi The Sandbox Paradox oleh Knight dan Mitchell pada 2020 mencatat bahwa biaya partisipasi dalam sandbox di berbagai negara dapat menjadi signifikan. Keuntungan kompetitif bagi peserta yang lolos juga perlu diperhatikan agar tidak menciptakan kesenjangan yang tidak semestinya dengan pelaku usaha lain.

Karena itu, efisiensi proses dapat terus ditingkatkan, misalnya melalui digitalisasi pengajuan dan penyederhanaan dokumen.

Tujuannya bukan mengurangi kualitas pengawasan, melainkan membuat proses menjadi lebih ringan tanpa kehilangan fungsi utamanya.

Menyeimbangkan Kehati-hatian dan Inovasi

Sebagai penjaga stabilitas sistem keuangan, kehati-hatian regulator merupakan sesuatu yang penting.

Namun, tantangannya adalah memastikan kehati-hatian tersebut tidak secara tidak sengaja mempersempit ruang bagi inovasi yang benar-benar transformatif.

Inovasi seperti itu justru dapat dibutuhkan untuk menciptakan lompatan besar dalam inklusi keuangan.

Peneliti kebijakan Trissia Wijaya dari CIPS pada 2023 mencatat bahwa tidak ada satu model sandbox yang dapat disebut sebagai model terbaik secara global.

Karena itu, pendekatan OJK yang mengombinasikan berbagai model internasional dan menyesuaikannya dengan konteks Indonesia dapat menjadi langkah yang relevan.

Ukuran keberhasilan sandbox ke depan juga dapat diarahkan pada dampaknya terhadap mitigasi risiko dan perluasan inklusi keuangan bagi masyarakat yang masih unbanked maupun underbanked.

Dua Usulan Penguatan Regulatory Sandbox

Ada dua langkah yang dapat menjadi bahan pertimbangan untuk memperkuat dampak regulatory sandbox OJK ke depan.

Pertama, memperkuat keterkaitan hasil sandbox dengan akses modal riil bagi pelaku usaha.

Misalnya, ketika inovasi penilaian kredit alternatif (PKA) telah teruji dan tervalidasi melalui sandbox, lembaga perbankan, khususnya penyalur Kredit Usaha Rakyat (KUR), dapat didorong untuk mengakui data tersebut sebagai pelengkap atau alternatif terhadap agunan fisik.

Dengan demikian, manfaat inovasi yang telah lolos pengujian tidak berhenti pada validasi teknis.

Manfaatnya dapat diteruskan hingga kepada pelaku usaha kecil yang membutuhkan akses pembiayaan.

Kedua, membuka ruang fleksibilitas parameter berdasarkan karakteristik ekonomi daerah.

Parameter risiko yang efektif untuk wilayah dengan karakteristik ekonomi berbasis jasa seperti Jakarta belum tentu sepenuhnya sesuai untuk daerah dengan struktur ekonomi berbeda.

Kepulauan Riau, misalnya, memiliki karakteristik ekonomi yang kuat pada sektor maritim, logistik antarpulau, dan transaksi lintas batas.

Fleksibilitas pada tingkat implementasi dapat membantu sandbox menangkap potensi inovasi yang muncul dari berbagai karakteristik ekonomi daerah di Indonesia.

Sandbox OJK Bukan Tujuan Akhir

Pada akhirnya, regulatory sandbox OJK merupakan langkah penting dalam mencari keseimbangan antara inovasi dan perlindungan konsumen.

Seperti mekanisme kurasi dalam bidang lain, mulai dari Braintrust Pixar hingga proses pengembangan dan persetujuan obat, kekuatan sebuah mekanisme penyaringan tidak hanya ditentukan oleh ketatnya aturan.

Kekuatan tersebut juga ditentukan oleh kemampuannya untuk terus dievaluasi dan disempurnakan.

Birokrasi dengan demikian tidak harus menjadi musuh inovasi.

Jika dirancang dengan tepat, aturan justru dapat menjadi mekanisme yang membantu inovasi berkembang secara lebih matang, aman, dan bertanggung jawab.

Dengan terus memperkuat aksesibilitas, efisiensi proses, serta fleksibilitas terhadap konteks lokal, regulatory sandbox OJK memiliki peluang besar untuk semakin optimal menjalankan perannya sebagai jembatan yang membawa inovasi keuangan yang matang dan aman kepada masyarakat luas.