My First Marathon
Catatan perjalanan menuju Full Marathon Jakarta Run Festival
Rizky
10/21/20262 min read
Dua belas minggu lalu, saya memulai program latihan easy run, tempo, interval, long run, leg day, lalu stretch dan stability menggunakan Runna Strava App. Kini hampir semua program latihan itu sudah tercoret, dan yang tersisa tinggal satu yaitu garis start Jakarta Running Festival.
Cuti sudah diajukan dan saya ambil khusus untuk ini. Dari Batam, tas olahraga berisi sepatu, baju dan celana lari, gel energi, dan satu pertanyaan besar yang menumpang di dalamnya, sanggupkah?
Saya belum pernah berlari sejauh marathon. Long run terjauh saya hanyalah sepanjang half marathon, belum dapat dibandingkan dengan yang akan saya hadapi sebentar lagi. Inilah virgin marathon saya, dan tubuh saya pun belum tahu persis apa yang akan diminta darinya.
Seolah itu belum cukup, Jakarta menyambut dengan langit yang kelabu. Asap karhutla dari Sumatra dan Kalimantan menggantung di udara, dan indeks kualitas udaranya jauh dari sehat. Ironisnya, kami para pelari datang untuk menghirup napas dalam-dalam, sementara udara justru sedang tidak sehat.
Saya tidak akan berpura-pura ini bukan masalah. Paru-paru bekerja lebih keras saat berlari, dan udara berkabut adalah lawan yang nyata. Karena itu strategi menjadi segalanya.
Saat start hingga 10 kilomter akan lebih lambat dari biasanya untuk menjaga tenaga. Semangat di garis start selalu menipu. Saya akan menahan pace di sepuluh kilometer pertama, bahkan ketika orang-orang di sekitar melesat. Marathon tidak dimenangkan di kilometer-kilometer awal.
Minum di setiap water station, basahi kepala dan tengkuk, dan jangan malu berjalan sebentar kalau napas mulai berat. Target saya hanya sampai garis finis di bawah 5 jam. Mampukah saya? Nanti saja dijawab, setelah event selesai dan bendera Cut Off Time dikibarkan.
Pasti badan membutuhkan makan dan minum sebelum marathon. Gel energi diperkirakan diminum setiap 45 menit, bukan menunggu tubuh protes. Di kilometer 30 ke atas, orang tidak lagi memutuskan dengan kepala dingin, mampukah saya di sana menjalankan misi ini hingga tuntas?
Perlu hati dan akal yang bijak untuk selalu mendengarkan tubuh saat nanti berlari. Jika ada sinyal yang tidak beres, entah napas yang tidak wajar, pusing, atau nyeri yang berbeda dari pegal biasa, saya siap melambat atau berhenti. Itu bukan kekalahan, itu kedewasaan seorang pelari.
Biasanya di tengah semua kekhawatiran itu, yang paling dominan justru rasa seru. Ada sesuatu yang magis pada ribuan orang asing yang bangun sebelum subuh, mengenakan pakaian lari, dan berbagi satu tujuan yang sama. Ada tos-tosan di pinggir jalan, ada tepuk tangan dari orang yang tidak kita kenal, ada senyum sesama pelari saat saling menyalip dan disalip. Setiap orang membawa ceritanya sendiri, ada yang mengejar personal best, ada yang membuktikan sesuatu pada dirinya, ada yang sekadar ingin merasakan.
Saya membawa cerita saya sendiri. Dua belas minggu bangun pagi ketika kasur terasa paling nyaman, kaki berat setelah leg day, dan hujan yang tidak jadi alasan. Semua itu sudah tersimpan dalam otot dan kepala saya. Apa pun yang terjadi Minggu di tanggal 25 Oktober ini, bagian tersulitnya sebenarnya sudah saya lewati, muncul setiap hari ketika tidak ada yang melihat.
Maka saya akan berdiri di garis start dengan rendah hati. Saya akan menghormati jarak, menghormati udara, dan menghormati tubuh yang sudah setia menemani. Kalau langit Jakarta masih berasap, biarlah. Saya akan berlari dengan kepala dingin, langkah sabar, dan hati yang penuh syukur.
Kilometer demi kilometer. Satu langkah, lalu satu langkah lagi.
Sampai jumpa di garis finis.
