Logika Mistika dan Politik Dunia: Membaca Ulang Madilog di Zaman Ini

ESAI REFLEKTIF

Rizky

9/30/20263 min read

Ketika menulis Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) pada awal 1940-an, Tan Malaka berhadapan dengan musuh yang tidak selalu berseragam: cara berpikir yang ia sebut logika mistika. Menurutnya, bangsa yang menyerahkan penjelasan nasibnya kepada hantu, kekuatan gaib, dan takdir yang tak terjangkau akal akan sulit bergerak maju. Hampir delapan dekade kemudian, gagasan itu terasa makin relevan. Logika mistika ternyata tidak hanya hidup di kampung-kampung. Ia juga bekerja di ruang-ruang pengambilan keputusan paling berkuasa di dunia.

Dibuat atau Diterima?

Pertanyaan paling mendasar dari Madilog adalah ini: bagaimana kita membedakan nasib yang kita ciptakan dengan nasib yang kita kira "sudah digariskan"? Bagi Tan Malaka, jawabannya ada pada materi dan sebab-akibat. Kemiskinan, penjajahan, dan kekalahan punya sebab yang bisa ditelusuri: struktur ekonomi, pembagian kekuasaan, keputusan manusia. Mistika membalik urutan itu. Penderitaan dijelaskan sebagai kehendak langit, dan kemenangan sebagai tanda restu ilahi.

Masalahnya, manusia jarang memakai satu cara berpikir secara murni. Dalam satu keputusan, hitungan untung-rugi bisa berjalan beriringan dengan keyakinan akan "petunjuk", "ujian", atau "tanah yang dijanjikan". Karena keduanya bercampur, kita sulit melihat mana yang hasil kalkulasi dan mana yang hasil kepercayaan. Di titik inilah bias lahir.

Kepercayaan sebagai Mesin Politik

Dunia hari ini bekerja sama demi tujuan ekonomi: perdagangan, investasi, rantai pasok. Namun arah kebijakan dan pembenarannya sering dibungkus bahasa iman. Sebuah kebijakan yang berakar pada kepentingan material bisa diberi legitimasi sakral, sehingga kritik terhadapnya terdengar seperti penistaan, bukan perdebatan.

Kepercayaan memang alat politik yang sangat efektif. Ia menyatukan massa, menumpulkan keraguan, dan memberi rasa bahwa perjuangan punya makna kosmik. Dalam kerangka Madilog, ini adalah mistika yang dipakai secara sadar sebagai instrumen kekuasaan: akal yang maju, dipakai untuk memperluas pengaruh, lalu diperkuat dengan dogma agar tidak mudah digugat.

Persoalan makin rumit karena dunia tidak mempercayai Tuhan yang sama, atau mempercayainya dengan tafsir yang berbeda. Ketika setiap pihak merasa dibimbing petunjuk langit yang berlainan, titik temu kemanusiaan menyempit. Yang tersisa adalah kubu-kubu dengan keyakinan yang saling menutup.

Nilai Manusia yang Dipersempit

Akibatnya, nilai manusia kerap diukur bukan dari kemanusiaannya, tetapi dari keberpihakannya pada kekuatan dominan. Mereka yang berbeda nilai sekaligus tidak punya kekuatan mudah dicap lemah, tidak relevan, dan layak disingkirkan dari percaturan politik dan ekonomi. Keseragaman berpikir dihargai, perbedaan dicurigai.

Pola ini bukan hal baru. Tatanan dunia hari ini tidak jauh berbeda dari tatanan masa lalu: yang kuat memonopoli sumber daya dan pasar yang lebih lemah. Tan Malaka mengenal pola ini dari dekat sebagai anak negeri jajahan. Dulu ekspansi dibenarkan dengan "misi peradaban" dan "panggilan suci". Kini bahasanya berganti, tetapi logika di baliknya sering sama.

Tentu tidak semua negara maju terseret dalam pola ini. Ada bangsa-bangsa yang cukup puas membangun industri, teknologi, dan kesejahteraan warganya tanpa mencampuri urusan bangsa lain. Ini menunjukkan bahwa kemajuan tidak otomatis melahirkan hasrat menguasai. Ekspansi adalah pilihan politik, bukan keniscayaan.

Gaza dan Bias Berpikir Maju

Konflik Israel-Palestina memperlihatkan bagaimana rasionalitas dan keyakinan bisa saling menguatkan. Di satu sisi ada negara dengan teknologi, militer, dan kapasitas ekonomi yang maju, sebuah produk berpikir rasional-ilmiah. Di sisi lain, ideologi Zionisme, terutama dalam arus yang bersandar pada klaim keagamaan atas tanah, memberi pembenaran yang bernuansa sakral bagi kebijakan yang pada dasarnya politik dan material. Dukungan kuat Amerika Serikat menambah bobot material itu. Hasilnya, kehancuran Gaza berlangsung dengan korban sipil yang sangat besar.

Namun penting untuk menjaga ketepatan sasaran. Yang kita kritik adalah kebijakan sebuah negara dan ideologi politiknya, bukan seluruh orang Yahudi. Banyak orang Yahudi, di Israel maupun di diaspora, justru menentang kebijakan itu karena dianggap berlebihan dan bertentangan dengan nilai-nilai mereka sendiri. Fakta ini menegaskan satu hal: iman bukanlah blok tunggal.

Menyamaratakan sebuah bangsa dengan pemerintahnya adalah bentuk logika mistika juga, karena mengganti analisis atas kepentingan dan kekuasaan dengan prasangka.

Madilog mengajarkan hal sebaliknya: periksa kepentingan materialnya, telusuri dialektikanya, dan gunakan logika yang konsisten, termasuk saat kita sendiri berada di pihak yang terluka.

Berpikir dengan Madilog

Tan Malaka tidak meminta manusia membuang keyakinan. Ia menuntut agar keyakinan tidak menggantikan akal ketika kita menjelaskan dan memutuskan hal-hal duniawi. Ada tiga pelajaran yang bisa dipetik.

Pertama, uji klaim dengan bukti. Ketika sebuah kebijakan dibenarkan atas nama langit, tanyakan apa kepentingan materialnya di bumi.

Kedua, pahami kontradiksi. Dunia bergerak lewat pertentangan kepentingan, dan tidak ada kekuasaan yang abadi. Mereka yang hari ini dianggap kuat dan yang dianggap lemah sama-sama berada dalam proses perubahan.

Ketiga, kembalikan manusia sebagai ukuran. Nilai seseorang tidak boleh ditentukan oleh kesetiaannya pada kekuatan dominan. Kemanusiaan yang universal, yang melintasi batas agama dan negara, adalah satu-satunya pijakan yang tidak bias oleh kepentingan satu kubu.

Logika mistika bukan sekadar urusan hantu dan takhayul masa lalu. Ia tumbuh subur di panggung politik global, tempat iman dan kepentingan saling menyamar. Membaca ulang Madilog hari ini berarti belajar membedakan nasib yang kita bentuk dengan tangan sendiri dari nasib yang kita kira turun dari langit, serta berani bertanya siapa yang diuntungkan ketika kita diminta percaya begitu saja.