Pada 1983, seorang remaja berusia 18 tahun di Tampa, Florida, ditangkap atas sebuah pembunuhan yang tidak ia lakukan. Ia tidak ditangkap karena adanya bukti yang kuat, namun karena kecocokan yang dangkal yaitu rambutnya panjang, dan penyidik butuh seseorang untuk dicurigai. Dari titik itu, sistem peradilan bergerak dengan keyakinannya sendiri. Sebuah cetakan lilin dari luka gigitan di tubuh korban dicocokkan dengan gigi remaja itu, disajikan di persidangan sebagai bukti forensik yang meyakinkan. Bertahun-tahun kemudian, analisis ilmiah membuktikan bahwa bekas luka itu bukan gigitan manusia. Ditambah kesaksian seorang informan penjara yang ceritanya berubah-ubah mengikuti arahan penyidik, cukup bagi juri untuk menjatuhkan vonis bersalah. Remaja itu bernama Robert DuBoise, sempat divonis hukuman mati, lalu diubah menjadi penjara seumur hidup. Ia baru bebas pada 2020, setelah 37 tahun, ketika pengacara dari Innocence Project menemukan sampel DNA yang belum pernah diuji. Hasilnya mutlak bahwa DuBoise tidak bersalah, dan pelaku sebenarnya sudah lama berada di penjara untuk kasus lain.
Kisah ini mudah dicerna sebagai cerita tentang kesalahan manusia. Penyidik yang ceroboh, ilmu forensik yang belum berkembang baik, seorang informan yang tidak jujur. Tapi ada lapisan yang lebih dalam dan lebih mengganggu, yaitu pada setiap tahapnya, sistem tidak merasa sedang melakukan kesalahan. Prasangka diubah menjadi kecurigaan resmi. Kecurigaan diubah menjadi bukti ilmiah. Kesaksian yang goyah diubah menjadi kesaksian yang meyakinkan di ruang sidang. Setiap langkah punya bentuk prosedural yang sah, ada protokol, ada dokumentasi, ada otoritas yang menandatangani. Yang hilang bukan prosedur, melainkan kebenaran di baliknya. Sistem tidak berbohong secara sadar namun system hanya membangun legitimasi bagi dirinya sendiri, lapis demi lapis, sampai keliru pun terasa sah.
Polanya tidak hanya ada di ruang sidang. Pola itu muncul di hampir semua institusi besar, termasuk dunia kerja birokratis. David Graeber, dalam bukunya Bullshit Jobs, melihat bahwa organisasi besar suka membuat peran dan prosedur yang tujuan utamanya bukan menghasilkan sesuatu yang berarti, melainkan membuat tampak bahwa sesuatu sudah diperiksa, dinilai, atau disetujui. Ia menamai sebagian pekerjaan semacam itu “box tickers”. Pperan yang ada hanya untuk memberi kesan bahwa proses sudah berjalan sebagaimana mestinya, walaupun proses itu tidak menghasilkan penilaian yang akurat. Skor kinerja, indikator keberhasilan, jenjang kepangkatan; semua itu dapat berfungsi sebagai bentuk legitimasi yang mirip dengan bukti gigitan lilin, tampak objektif, tampak ilmiah, tetapi rapuh bila diuji lebih dekat.
Apa yang membuat pola ini tetap hidup bukan niat jahat, melainkan insentif struktural. Begitu sebuah sistem memiliki mekanisme untuk membenarkan keputusannya sendiri, sistem itu kehilangan alasan untuk mempertanyakan keputusan itu. Vonis yang sudah dijatuhkan, penilaian kinerja yang sudah difinalkan, keputusan promosi yang sudah ditetapkan, semuanya memiliki bobot institusional yang membuat pembalikan arah terasa mahal, baik secara administratif maupun secara psikologis bagi mereka yang harus mengakui kesalahan. Lebih mudah bagi sebuah sistem untuk menjaga konsistensi keputusan lama daripada mengakui bahwa dasar keputusan itu keliru sejak awal. Konsistensi, dalam logika birokrasi, sering dianggap setara dengan keadilan, padahal keduanya bisa saja bertentangan.
Hal yang paling mengganggu dalam kasus DuBoise bukan hanya cara ia dihukum, melainkan cara ia dibebaskan. Pembebasannya tidak datang dari sistem yang memeriksa diri. Tidak ada proses internal yang meninjau kembali keputusannya dan menyatakan ada kesalahan. Yang terjadi hanya kebetulan teknis: ada sampel DNA yang belum diuji pada waktunya, dan pihak di luar sistem peradilan “sebuah organisasi advokasi independent” yang menemukannya, mengujinya, lalu membawanya ke pengadilan sebagai bukti baru. Tanpa kebetulan itu, tanpa pihak eksternal yang memiliki kepentingan dan kemampuan mencari, DuBoise hampir pasti akan menghabiskan sisa hidupnya di penjara, mati sebagai orang yang tetap dianggap bersalah oleh negara.
Pertanyaan yang lebih luas dan tidak nyaman muncul yaitu berapa banyak koreksi keputusan institusional yang sebenarnya bergantung pada keberuntungan, bukan pada kemampuan sistem untuk memeriksa dirinya sendiri? Di dunia kerja, pertanyaan yang sama muncul dalam skala lebih kecil tetapi tidak kalah nyata. Seseorang yang merasa penilaian terhadapnya tidak adil, baik dalam jenjang karier, penghasilan, atau kesempatan, sering hanya dapat mengandalkan faktor eksternal yaitu pergantian pimpinan, restrukturisasi organisasi, atau sekadar keberuntungan berada di tempat dan waktu yang tepat. Mekanisme internal yang secara aktif meninjau kembali keputusan, bukan hanya menegakkan keputusan yang sudah dianggap final, jarang ada. Sistem besar pada dasarnya dirancang untuk konsisten dengan dirinya sendiri, bukan untuk terus meragukan dirinya sendiri.
Masalah lain yang membuat pola ini susah diputus dari dalam adalah orang yang bekerja dalam sistem ini jarang merasa mereka salah. Penyidik yang mengarahkan saksi informan biasanya percaya bahwa mereka menegakkan keadilan. Penilai kinerja yang memakai indikator yang rusak biasanya percaya bahwa mereka bersikap objektif. Kesalahan sistemik seperti ini bukan karena niat buruk individu, melainkan karena cara sistem mendefinisikan apa yang disebut “bukti yang cukup” atau “penilaian yang sah”. Jika definisi itu keliru, semua orang yang mengikutinya dengan jujur tetap menghasilkan keputusan yang keliru. Inilah yang membuat kesalahan institusional berbeda dari kesalahan individu: tidak bisa diperbaiki hanya dengan mengganti orang, karena orang baru akan tetap mengikuti definisi dan prosedur yang sama, kecuali definisi itu diubah.
Ini bukan ajakan untuk menganggap semua institusi sebagai mesin ketidakadilan. Prosedur dan konsistensi memang penting, tanpanya keputusan menjadi sewenang‑wenang dan tidak dapat diprediksi. Namun nilai itu ada batasnya. Prosedur yang dibuat untuk menjaga objektivitas bisa tanpa sadar berubah menjadi prosedur yang hanya menjaga tampilan objektivitas. Perbedaannya tipis, dan karena tipis itulah sulit dikenali dari dalam. Yang dibutuhkan bukan sekadar lebih banyak prosedur, melainkan ruang yang sengaja disediakan agar sistem dapat memeriksa dirinya sendiri, bukan hanya saat ada tekanan luar atau kebetulan yang memaksa, melainkan sebagai bagian dari cara sistem bekerja setiap hari.
DuBoise, setelah dibebaskan, memilih jalan yang tenang. Ia menerima ganti rugi 14 juta dolar dari Kota Tampa, namun ia tetap hidup sederhana, bekerja sebagai teknisi pemeliharaan, dan tidak menyimpan kebencian atas 37 tahun yang hilang. Pilihan itu mengajarkan hal penting: uang dapat membayar banyak hal, tapi tidak dapat mengganti waktu. Kesadaran itu mungkin membuat orang berhenti menuntut lebih dari sistem, lalu mulai membangun kembali hidupnya dari tempat ia berdiri sekarang.
Pertanyaan yang masih ada bukan tentang cara menghukum sistem yang salah, karena hukuman jarang mengubah cara sistem bekerja. Pertanyaan yang lebih penting adalah: apa yang membuat sebuah institusi mulai meragukan dirinya sendiri sebelum tekanan luar memaksanya? Seberapa besar ruang untuk peninjauan ulang, bukan hanya mengikuti prosedur, dibuat dalam cara sistem, besar atau kecil, membuat keputusan tentang orang‑orang di dalamnya?
